Sabtu, 25 April 2015
Shikamaru Hiden Chapter 1 Part 3 "Konoha"
Published :
20.08
Author :
Fadhlan Abdurrahman
“Dan dengan ini, pertemuan bulan ini berakhir. Apakah ada yang ingin bertanya?"
Shikamaru memejamkan matanya saat mendengar suara yang terdengar tidak puas pada
pertemuan ini. Pria berkacamata yang berbicara adalah Chojuro, shinobi dari Kirigakure.
Shikamaru mengenalnya saat perang, ia merupakan salah satu bodyguard Mizukage.
“Jika tidak ada yang ingin bertanya, kalau begitu, Shikamaru-san..."
Chojuro berbicara dengan nada permohonan dari tempat ia duduk, disebelah Shikamaru.
Shikamaru membuka mata kanannya untuk melihat ke arah Chojuro, kemudian perlahan membuka
keduanya.
Sepuluh shinobi duduk mengitari meja yang berbentuk lingkaran; baik pria maupun wanita,
semuanya rata-rata seusia dengan Shikamaru.
Mereka berada di Negeri Besi ( Tetsu no Kuni ); Markas Besar Persatuan Shinobi.
Negara ini memiliki sejumlah besar samurai yang kuat, karena itu mereka tidak membutuhkan
seorang shinobi pun. Sebelum perang, kelima Kage dari Lima Desa Besar Tersembunyi mengadakan
pertemuan di negara ini, dan sekarang, negara ini menjadi Markas Besar Persatuan Shinobi.
Markas Besar Persatuan Shinobi telah ditetapkan di Negara Besi, tempat dimana aliansi pertama
kali dibentuk.
Seluruh desa terkemuka dari kelima Negara Besar Shinobi menugaskan beberapa shinobinya untuk
mengadakan pertemuan di markas besar, dan —tak peduli siang ataupun malam—melanjutkan
kerja keras mereka demi perluasan dunia ninja secara keseluruhan.
Pertemuan ini dipenuhi oleh orang-orang yang menopang beban era dunia shinobi yang
selanjutnya. Tempat ini merupakan tempat dimana masa depan Shinobi didiskusikan. Shinobi yang
dikirim untuk pertemuan ini merupakan shinobi yang berkapabel di desanya, yang
dipertimbangkan sebagai kandidat Kage ataupun jabatan lainnya.
Diantara mereka, Shikamaru dan Chojuro adalah yang paling muda.
Selain Shikamaru dan Chojuro, yang memimpin rapat, ada juga Temari dari Sunagakure, dan Omoi
dari Kumogakure. Shikamaru ditugaskan sebagai pimpinan dari pertemuan shinobi ini. Tentu saja,
ia tidak mengajukan dirinya. Ini merupakan hasil rekomendasi dari semua orang.
“Shikamaru-san?” suara Chojuro terdengar seperti khawatir akan keheningan Shikamaru yang
berkepanjangan.
Shikamaru berdeham, melihat kearah seluruh anggota, membuka mulutnya untuk bicara.
“Saya yakin bahwa kita tidak memiliki topik baru untuk dibicarakan pada pertemuan ini. Saya
berharap pertemuan-pertemuan berikutnya dapat berjalan singkat seperti ini. Dengan begitu,
sampai bertemu lagi bulan depan."
Seusai menutup pertemuan itu, Shikamaru segera melangkahkan kakinya, mengumpulkan semua
gulungan dan dokumen yang tersebar sepanjang meja, melipat dan menggulungnya, kemudian
bersiap untuk meninggalkan ruangan.
Karena bingung akan sikap pemimpinnya yang dingin, anggota lainnya bersiap meninggalkan
ruangan dengan segera. Semua orang keluar ruangan menuju dua lorong di kanan dan di kiri.
Meskipun begitu banyak shinobi yang berjalan di lorong dengan gelisah, tak satupun suara
langkah mereka yang terdengar. Bagaimanapun juga mereka adalah shinobi. Suara langkah orang
lain pasti dapat terdengar, namun tidak dengan suara langkah shinobi. Itu merupakan hal yang
paling mendasar dari hal-hal dasar yang diajarkan di akademi ninja.
“Oi.” Sebuah suara memanggilnya dari belakang.
Shikamaru mendecakkan lidahnya dengan gelisah. Saat ini, pemilik suara itu adalah orang yang
paling tidak ingin ia ajak bicara.
Ia terus melangkah seolah tak mendengar panggilan itu.
“Tunggu, Shikamaru!” Suara itu terasa seperti menghantamnya dari belakang.
“Ada apa?” Shikamaru menolehkan kepalanya untuk sekedar melihat wanita di belakangnya dari
balik bahunya.
Temari dari Suna. Rambutnya kini lebih pendek dibanding dua tahun lalu, dan sekarang diikat dua
pada bagian kanan dan kiri. Wajahnya tampak seperti orang dewasa, matanya tampak lebih teduh
dibanding dulu.
Ia lebih tua dari Shikamaru. Daripada mengatakan bahwa ia terlihat seperti orang dewasa, akan
lebih tepat jika dikatakan bahwa ia telah tumbuh menjadi orang dewasa yang menawan.
“Ada apa dengamu?” Tanyanya.
Matanya tampak seperti lebih sayu dibanding dulu.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Kau bersikap aneh belakangan ini.” Temari mengulurkan tangannya yang ramping untuk
menggapai pundak Shikamaru, memutarnya agar menghadap ke arahnya.
Merepotkan…
Kata yang hampir keluar dari tenggorokannya itu kembali ia telan dengan penuh ketakutan.
“Seperti sikapmu yang dingin pada pertemuan tadi."
Ia berkata, "Kau membuat keputusan tanpa mengungkapkan sepatah kata atau memberikan
penjelasan, itu membuat semua orang gugup, atmosfir berubah menjadi tegang."
“Oh ya?”
“Kau bahkan tidak menyadarinya...?" Mata Temari sedikit melebar.
"Apa ada yang salah?"
“Tidak ada…”
“Ada hal yang tak ingin kau beritahukan padaku, benarkah itu?"
Tatapan Temari seperti terluka.
Sejak perang usai, terhitung sudah dua tahun Shikamaru telah bekerja sama dengan Temari. Temari
merupakan partner yang baik dan pengertian. Mereka berdua berbagi perasaan yang sama, yaitu
tidak ingin seluruh shinobi yang telah dipersatukan terpisah kembali, begitu juga dengan niat
mereka untuk bekerja sama dan membangun Persatuan Shinobi sebaik mungkin.
Jika kalian melihat ikatan yang kuat antara Naruto, yang bertekad untuk menjadi Hokage Konoha,
dan Gaara, Kazekage Suna, maka dapat dikatakan dengan mudah bahwa ikatan antara Suna dan
Konoha merupakan yang terkuat diantara desa lainnya. Begitu juga dengan kekuatan eksternal
seperti dalam pekerjaan, maka wajar jika Shikamaru dan Temari telah mencapai tahap dimana
mereka memberikan dukungan yang terbesar satu sama lain di Persatuan Shinobi.
“Sesuatu sedang terjadi di Konoha, kan?"
Temari sudah membuat tebakan yang tepat. Namun, ia melewatkan satu hal kecil. Situasinya tidak
terjadi di Konoha, meskipun situasinya mempengaruhi seluruh shinobi Konoha. Teori Temari
setengahnya benar, setengahnya salah.
Jika ada suatu hal yang tak mengubah hidup shinobi, maka itu adalah ketika segala hal yang telah
melewati perbatasan desamu, harus segera didiskusikan dengan desa lainnya. Ini merupakan
aturan dasar Persatuan Shinobi. Langkah yang diambil oleh Shikamaru dan Kakashi jelas-jelas
merupakan sebuah pelanggaran.
Namun, walaupun terdapat peraturan tak langsung tersebut, Shikamaru masih tak berniat untuk
mengatakan hal itu pada Temari. Sebuah langkah yang tidak bijak untuk melibatkan seluruh
Persatuan ke dalam urusan Negeri Sunyi.
Konoha akan menangani masalah ini sendiri...
Ia sendiri yang akan menanganinya.
“Kau tak bisa mengandalkanku dalam hal apapun?"
“Tidak.”
Nada Shikamaru yang tajam membuat mata Temari meredup.
"Jadi seperti itu…”
Sebuah tinju melayang tepat setelahnya. Selang sedetik, wajah Temari yang menampakkan ekspresi
tersinggung berubah menjadi kemarahan besar. Tak ada waktu lagi untuk menghindarinya. Bahkan
sebelum Shikamaru menyadari apa yang sedang terjadi, tubuhnya sudah melayang ke arah lain.
Tubuhnya terguling di lantai lorong sebelum akhirnya terduduk. Ia terdiam kemudian
menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipinya yang memerah dan terasa pedih menyengat.
Temari menatapnya dengan menampakkan ekspresi kemarahan di wajahnya.
" Aku tak percaya bahwa aku salah menilaimu selama ini!"Ia berteriak dengan penuh amarah,
kata-katanya seolah berubah menjadi angin yang menghantam wajah Shikamaru.
“Aku- aku minta maaf…”
Permintaan maaf itu meluncur tanpa disadari.
Dulu sewaktu ayahnya baru pulang saat matahari terbit, ibunya memaki ayahnya di depan pintu
masuk. Entah bagaimana, Shikamaru menemukan dirinya dimaki dengan makian yang serupa oleh
Temari.
Temari melangkah melewati Shikamaru dengan langkah yang besar dan cepat, kemudian
menghilang dibalik punggungnya.
Sudut matanya tampak sedikit basah...
“Kau sudah berhenti makan.”
Suara itu merupakan suara Chouji yang duduk di depannya, kedua pipinya menggembung terisi
makanan. Ino duduk disebelahnya.
Mereka berada di Yakiniku Q.
Dua tahun setelah perang, kedua temannya sudah tumbuh dewasa. Chouji masih tetap gemuk
seperti biasanya, namun matanya menampakkan perawakan yang maskulin, dan kini ia memiliki
jenggot. Rambut Ino tumbuh panjang dan lebih panjang lagi, ia membiarkan poninya yang panjang
terurai, tampak lebih dewasa daripada sebelumnya.
“Apa kau makan sesuatu sebelum kemari?" Chouji membuka mulutnya untuk melahap daging lagi,
mengunyahnya dan kemudian menelannya.
“Shikamaru dan aku sudah berhenti tumbuh sejak lama, jadi kami tidak makan secara berlebihan
sepertimu, Chouji."
“Hey!” Mata Chouji membelalak karena marah.
Shikamaru tertawa lepas. Rasa tenang menyelimuti hatinya. Rasanya sudah lama.
“Aku sengaja datang untuk makan siang bersama kalian, jadi untuk apa aku makan sebelum
kemari?" Shikamaru mengarahkan sumpitnya menuju potongan daging yang hampir gosong.
Sepasang sumpit lainnya menghadang sumpit Shikamaru.
“Hey, tadi aku yang memanggang potongan daging itu!" Protes Chouji.
“Baiklah, baiklah."
Mereka telah melalui saat-saat seperti ini berkali-kali sebelumnya. Shikamaru melepaskan
potongan daging itu, menuju daging potongan daging di sebelahnya. Ia melirik ke arah Ino, yang
mengangguk memberikan persetujuan.
“Sudah lama sejak terakhir kali kau mengajak kami keluar, Shikamaru.” Ucap Ino.
“Iya,” Chouji menimpali, “Belakangan, aku sangat jarang bertemu denganmu kecuali jika kita
mengatur waktu seperti ini."
“Shikamaru punya banyak pekerjaan di Persatuan Shinobi dan ia juga membantu Hokage. Dia
sangat sibuk, Chouji, tidak bisa terlalu sering pergi bersama kita."
“Aku mengerti, tapi...” Chouji meletakkan kedua tangannya di atas meja, pipinya menggembung
karena merengut.
Ketika sebagian dari diri Shikamaru merasa senang karena mereka menyadari ketidakhadirannya,
sebagian lainnya merasa kesepian, seperti ada jarak yang memisahkan mereka dengan dirinya.
Jika ia ingin menjadi orang dewasa, maka ia harus berhenti berpikir seperti anak-anak. Mereka
sudah lama lulus dari Akademi. Semua hal tidak sama lagi seperti dulu saat ia bisa bermain
bersama teman-temannya hingga menjelang malam.
Sama seperti Shikamaru yang dibanjiri dengan pekerjaan dari organisasi dan tanggung jawabnya
pada Konoha, Ino dan Chouji yang telah berjuang pada perang yang lalu, menjadi Chuunin yang
hebat dan dapat diandalkan. Disaat mereka mengatakan ini semua karena Shikamaru yang sangat
sibuk, sebenarnya mereka juga memiliki waktu bebas yang sama sedikitnya.
Dan juga, mereka datang untuk bertemu dengan Shikamaru tanpa mengeluh, karena Shikamaru
berkata bahwa ia ingin menemui mereka. Mereka adalah teman yang paling lama dan paling dekat
dengannya.
“Ada apa?” Ino bertanya saat ia melihat sumpit Shikamaru mengambang di udara, tak bergerak.
“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin bertemu kalian sebentar.” Shikamaru memasukkan potongan
kecil daging ke mulutnya.
“Ah, oke.”
Ino tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu. Chouji melanjutkan menikmati kegiatan memenuhi
mulutnya dengan daging.
Lalu, ketiganya mulai mengobrol. Obrolan ringan dan konyol.
Cinta abadi Chouji pada makanan.
Kisah cinta Ino, seperti biasanya.
Kemudian, mengenang Asuma…
Shikamaru dapat merasakan jarak yang memisahkannya dengan teman-temannya berkurang.
Rasanya seperti kembali ke waktu pertama kali Asuma membawa mereka kesini.
Pada masa itu, hidupnya penuh dengan keluhan tentang semua hal yang 'merepotkan'...
Ketika melihat Chouji dan Ino yang sudah tumbuh dewasa. Shikamaru menyadari betapa mereka
tak akan bisa kembali ke masa-masa itu.
Shikamaru pulang ke rumah sendirian.
Hingga penghujung hari, ia tak mampu memberitahukan mereka.
Ia awalnya berpikir jika ia akan pergi ke Negeri Sunyi, maka ia akan mengajak mereka berdua. Ia
bermaksud mengajak mereka makan untuk membicarakan hal tersebut. Tapi saat melihat senyum di
wajah mereka, entah bagaimana ia tak mampu berkata apapun.
Jalan ia ia tempuh merupakan jalan yang gelap.
Demi Konoha, demi Persatuan Shinobi, demi kehidupan setiap shinobi, seseorang harus dibunuh.
Dalam keadaan ini, kemenangan tak dapat diraih dengan cara yang wajar, dan karena itu, pria itu
harus dibunuh secara diam-diam.
Pembunuhan.
Pembunuhan bukanlah hal yang baru untuk shinobi. Seiring dengan waktu, cepat atau lambat kau
akan menyadari bahwa hal itu merupakan hal yang biasa di dunia ini.
Namun, tetap saja...
Adalah hal yang baik untuk memperkecil jumlah orang yang harus melakukan pekerjaan kotor
tersebut. Ia tak sampai hati untuk membawa serta Chouji dan Ino ke jalan penuh kegelapan ini.
“Jadi, sepertinya Anbu..."
Shikamaru mendongak ke arah langit malam, dan tak satupun bintang yang tampak.
Bersmbung Ke Part 4...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar